TVRINews, Pekanbaru
Keahlian membatik yang dimiliki para siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Pembina Pekanbaru terus berkembang dan menghasilkan karya yang membanggakan. Tidak hanya memproduksi batik canting khas Riau, sekolah kini juga berinovasi dengan menghadirkan lukisan batik canting berukuran 50 sentimeter sebagai produk kreatif bernilai ekonomi.
Di Sentra Keterampilan Batik SLB Negeri Pembina Pekanbaru, para siswa menjalani seluruh proses pembuatan batik secara manual, mulai dari menggambar pola, mencanting lilin, hingga mewarnai kain. Seluruh tahapan dilakukan dengan pendampingan guru serta alumni yang telah berpengalaman dalam membatik.
Beragam motif khas Riau menjadi ciri utama karya yang dihasilkan, seperti Tugu Zapin, Tugu Selamat Datang Pekanbaru, Tepak Sirih, Kapal Lancang Kuning, hingga desain yang disesuaikan dengan identitas instansi, termasuk logo dan ornamen perkantoran. Sentra keterampilan ini juga rutin menerima kunjungan dari berbagai mitra dan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Riau, termasuk istri Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Dinas Pendidikan Provinsi Riau.
Kepala SLB Negeri Pembina Pekanbaru, Moelya Eko Suseno, mengatakan pengembangan batik canting tidak hanya menjadi media pembelajaran keterampilan bagi siswa berkebutuhan khusus, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kreativitas dan kemandirian mereka.
“Pengembangan batik canting ini bukan hanya sebagai pembelajaran keterampilan, tetapi juga menjadi wadah untuk menumbuhkan kreativitas dan kemandirian siswa,” ujar Moelya, Rabu, 29 Juli 2026.
Ia menambahkan, sekolah terus melakukan inovasi dengan menghadirkan produk baru berupa lukisan batik canting berukuran 50 sentimeter. Karya seni tersebut telah dipasarkan dengan harga Rp50 ribu per buah sebagai alternatif produk kreatif hasil karya para siswa.
Melalui berbagai inovasi tersebut, SLB Negeri Pembina Pekanbaru membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk berkarya. Selain melestarikan budaya daerah melalui batik canting, para siswa juga mampu menghasilkan produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi meningkatkan kemandirian mereka di masa depan.









