TVRINews, Pekanbaru
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai memberikan dampak positif terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Sejumlah wilayah, terutama kawasan utara Riau, telah diguyur hujan setelah pelaksanaan operasi tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD dan Pemadam Kebakaran Provinsi Riau, M Edy Afrizal, mengatakan hujan yang turun di sejumlah wilayah turut membantu menekan perkembangan titik panas. Berdasarkan pemantauan hingga 10 September 2026, jumlah hotspot di Riau turun signifikan dari sebelumnya 317 titik menjadi 117 titik.
“Operasi Modifikasi Cuaca mulai memberikan dampak positif. Sejumlah wilayah di Riau, khususnya kawasan utara, sudah mendapatkan hujan dan jumlah hotspot juga mengalami penurunan,” ujar M Edy Afrizal.
Meski jumlah hotspot menurun, upaya pemadaman dan pendinginan masih dilakukan di tujuh titik api. Lima titik berada di Kabupaten Indragiri Hulu yang mayoritas merupakan kawasan lahan gambut, sementara masing-masing satu titik berada di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Siak.
Untuk mempercepat penanganan karhutla di Indragiri Hulu, sebanyak tiga unit helikopter telah dikerahkan untuk mendukung proses pemadaman, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Secara keseluruhan, luas lahan yang terbakar di Provinsi Riau hingga saat ini diperkirakan mencapai sekitar 19 ribu hektare. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luasan karhutla paling tinggi karena kebakaran telah terjadi sejak awal tahun, disusul Kabupaten Pelalawan.
M Edy Afrizal menegaskan, penurunan hotspot belum menjadi alasan untuk menghentikan penanganan karhutla. Pemadaman, pendinginan, dan pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan api maupun bara di dalam lahan tidak kembali menyala dan meluas.
“Meski hotspot mengalami penurunan, penanganan tetap kami lakukan. Pemadaman, pendinginan, dan pemantauan terus dilakukan untuk mencegah kebakaran kembali meluas,” tegas Edy.
Pemerintah Provinsi Riau bersama tim gabungan juga terus mengoptimalkan berbagai langkah penanganan karhutla, termasuk operasi udara dan pemantauan di wilayah yang masih memiliki potensi kebakaran.










