TVRINews, Indragiri Hilir
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, mencatat luas lahan yang terbakar sejak awal Agustus hingga 8 September 2026 mencapai 473 hektare. Luas lahan yang terbakar tersebut berasal dari 89 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir. Kalaksa BPBD Kabupaten Indragiri Hilir, Raja Arliansyah, mengatakan pihaknya terus melakukan pendataan dan penanganan terhadap karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Dari data BPBD Indragiri Hilir, sejak awal Agustus hingga 8 September 2026, total lahan yang terbakar mencapai 473 hektare dari 89 kejadian karhutla yang terjadi di beberapa kecamatan,” ujar Raja Arliansyah, Rabu, 9 September 2026.
Di lapangan, tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik yang masih berpotensi menimbulkan kebakaran.
Sementara itu, berdasarkan data terakhir, terdapat 17 hotspot yang tersebar di tujuh kecamatan. Di antaranya Kecamatan Tempuling, Keritang, Gaung, Pelangiran, dan Mandah.
Jumlah titik panas tersebut masih bersifat fluktuatif. Pada awal Agustus lalu, hotspot di wilayah Inhil bahkan sempat menembus angka lebih dari 100 titik. Namun, dalam sepekan terakhir, tren titik panas cenderung mengalami penurunan.
BPBD Inhil mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang dapat mempercepat penyebaran api.
“Karena kondisi cuaca saat ini cukup ekstrem, kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Personel akan terus kami siagakan di titik-titik rawan sampai kondisi benar-benar aman dari ancaman karhutla,” kata Raja.
Upaya pemantauan, pemadaman, dan pendinginan akan terus dilakukan oleh tim gabungan untuk mencegah munculnya kembali titik api dan memastikan kondisi di wilayah rawan karhutla tetap terkendali.










