TVRINews, Pekanbaru
Jumlah titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera mencapai 4.127 titik berdasarkan pemantauan BMKG hingga Jumat pagi. Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah berpotensi memperburuk kualitas udara dan memicu kabut asap lintas provinsi.
Dari total tersebut, titik panas terbanyak terpantau di Provinsi Sumatera Selatan, yakni 3.328 titik. Sementara itu, di Provinsi Riau terdeteksi delapan titik panas. Meski jumlahnya relatif sedikit, Riau tetap berpotensi terdampak asap dari kebakaran di provinsi tetangga.
Menyikapi kondisi tersebut, Anggota Komisi I DPRD Riau, Andi Darma Taufik, mendorong pemerintah provinsi se-Sumatera memperkuat koordinasi dan bekerja sama dalam menangani karhutla. Menurutnya, dampak kebakaran tidak hanya dirasakan wilayah yang terbakar, tetapi juga daerah lain yang terdampak sebaran asap akibat pergerakan angin.
“Penanganan karhutla perlu dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah provinsi di Sumatera. Meskipun titik panas di Riau relatif sedikit, asap dari kebakaran di daerah lain tetap dapat berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat di Riau,” ujar Andi Darma Taufik, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ia meminta pemerintah daerah, khususnya provinsi yang masih mengalami kebakaran, memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan agar api tidak meluas. Koordinasi lintas wilayah dinilai penting untuk mempercepat penanganan titik kebakaran sekaligus mengurangi dampak asap.
Andi juga menekankan bahwa penanganan karhutla harus menjadi tanggung jawab bersama karena sebaran asap dapat melintasi batas administratif dan memengaruhi wilayah yang lebih luas.
Dengan penguatan kerja sama antardaerah, upaya penanggulangan karhutla diharapkan lebih efektif sehingga kualitas udara dapat terjaga dan risiko gangguan kesehatan masyarakat akibat kabut asap dapat diminimalkan.










